Tampilkan postingan dengan label OLE-OLE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OLE-OLE. Tampilkan semua postingan

Ketika Mental dan Fisik Sudah Terkuras, Masih Ada Harga Diri Yang Akan Memandumu Pulang…


Sebuah Laporan Perjalanan Kegiatan MAHESA Bersih Gunung Bawakaraeng 2010

Alul Sarjana Ekonomi, 003/MAHESA/PENDIRI/2007


Kali ini, 12 Maret 2010, Makassar Menjelang Senja..

Dalam Catatan Kali ini, saya rasa akan lebih afdhol apabila saya memulainya dengan kulangkahkan kakiku keluar dari kamarku(Sebuah Kerajaan Malamku) setelah packing dan melakukan persiapan-persiapan lainnya…Setelah pamitan dan mencium tangan Ibunda saya pun melanjutkan perjalanan menuju ke MABES MAHESA di BTN ASAL MULA, kali ini saya menumpang Sepeda motor bermerek Yamaha Jupiter Z dan Othe’ (001/MAHESA/AP/2007) sebagai Jokinya.

Masih Senja di MABES MAHESA, ternyata sudah banyak kawan-kawan yang berkumpul disana dan Nampak sedang melakukan persiapan-persiapan menjelang keberangkatan. Ada yang melakukan packing, mendata equipment yg dibawa serta, mendata Ransum, membagi bobot beban ke dalam tas Carrier peserta, dan persiapan-persiapan lainnya. Nampaknya masih lama akan berangkat, sambil menikmati sebotol coca-cola dingin bersama Akil berbincang-bincang about Love di beranda, Asikkkkkkk Sekaliiii……….

Dan akhirnya malam hari pun tiba diawali dengan Adzan Magrib Yang membahana. Packing pun telah selesai dilaksanakan, persiapan pun telah mencapai taraf 90%. Ada beberapa teman yang keluar untuk mencari sisa perlengkapan yang belum rampung untuk segera dilengkapi. Nampak pula beberapa teman menuju ke DIMITRI untuk menyewa Equipment Yang akan dibawa dalam perjalanan nanti, dan beberapa teman yang masih bersantai di MABES MAHESA.

21.09 WITA, Rombongan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG berangkat meninggalkan MABES MAHESA menuju Desa Lembanna Kab.Gowa. Rombongan Terbagi atas 2, rombongan yang pertama menggunakan sepeda motor sementara rombongan kedua menggunakan Sebuah Mobil Panther punya Mheeno (014/MAHESA/I/AP/2008)yang kerap digunakan sebagai kendaraan Dinas MAHESA. Makasih,bro..^^

Tanggal 13 Maret 2010, pukul 00.58 WITA Rombongan 1 dan 2 Tiba di Desa Lembanna Kab.Gowa dan menggunakan Rumah Tata’ Rappe sebagai Home Base perjalanan kali ini. Tidak beberapa lama kemudian, dari kejauhan terdengar raungan Sepeda Motor Bermerek Tiger kepunyaan Ryan (004/MAHESA/PENDIRI/2007). Ternyata Ryan juga ikut serta dalam perjalanan ini.

04.00 WITA, Tim I yang merupakan Tim Leader beranggotakan Karmani (010/MAHESA/I/AP/2008), Ikha (021/MAHESA/I/AP/2008), dan Iccank (001/MAHESA/III/AM/2010) beranjak meninggalkan Home Base menuju ke Puncak Bawakaraeng. Selang 30 Menit kemudian (waktu yang kami sepakati untuk melakukan contact via HT) kami melakukan contact dan Tim I melaporkan bahwa mereka telah tiba di Pos Berdoa.

05.00 WITA, Tim II yang merupakan Tim Inti beranggotakan Agung (016/MAHESA/I/AP/2008), Yude’ (020/MAHESA/I/AP/2008), Awi (013/MAHESA/I/AP/2008), Faruk (029/MAHESA/II/AP/2009), Muphe’(002/MAHESA/III/AM/2010), Miko (005/ MAHESA/III/AM/2010), dan saya Sendiri; Alul (003/MAHESA/PENDIRI/2007) juga beranjak meninggalkan home base menuju puncak bawakaraeng menyusul Tim I. dan menurut kesepakatan Tim III yang merupakan Tim Sweeper yang beranggotakan Tomo (002/MAHESA/PENDIRI/2007), Ryan (004/MAHESA/PENDIRI/2007), Barak (011/MAHESA/I/AP/2008), dan Mheeno (014/MAHESA/I/AP/2008) akan menyusul tim I dan Tim II sejam kemudian.

Perjalanan menuju puncak bawakaraeng dalam rangka kegiatan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG merupakan perjalanan yang berat dan sangat meletihkan. Baru saja tiba di Pos I sudah menguras energi yang sangat banyak. Medan di perjalanan menuju Pos I sangatlah menantang, perjalanan yang sedikit mendaki dengan bebatuan dan tanah merah dengan sedikit rintangan dari semak belukar di tiap sisi dan berjalan memotong aliran sungai kecil. Tiba di pos I, beristirahat sejenak dan mengumpulkan sampah.
Melanjutkan perjalanan, medan perjalanan yang panjang dan berkelok menyusuri medan semak belukar yang tinggi yang terkadang menganggu pandangan dan menggores badan kami. Lumayan jauh juga akhirnya kami tiba di Pos II yang dtandai dengan sebuah Pohon yang rindang, sekedar mengumpulkan sampah dan memasukkannya ke dalam kantong polybag.Kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan semak belukar masih di sisi kiri dan kanan kami, beberapa batang pohon yang memaksa kami untuk melompati,merunduk, bahkan tiarap di bawah untuk melewatinya..(Katanya inilah konsep hidup yang sebenarnya). Akhirnya kami tiba di Pos III, beberapa meter sebelumnya kami sempat singgah di sungai sebelum Pos III untuk sekedar mengambil air, mengumpulkan sampah, dan berpose foto tentunya. Pada kesempatan ini, kami menyempatkan diri untuk mempersilahkan saudara Muphe’ dan Faruk untuk mengambil jatah SET karena lupa akan Penggunaan kata ‘Kanda’ pada saat menyapa Kakak-kakak DIKLATnya…Inilah Seninya Organisasi, Bukanlah Hukuman Cuma sekedar pengingat yang menyenangkan demi mendidik tata krama dalam organisasi.."Yang Tua Sadar Diri, Yang Muda Tahu Diri."

15 menit kemudian kami pun melanjutkan perjalanan. Menuju pos IV medan perjalanan yang kami tempuh adalah kawasan hutan basah. Pos IV bawakaraeng ditandai dengan sebuah potong besar melintang yang terbelah di tengahnya. Di Pos inipun kami menyempatkan diri untuk mengumpulkan sampah dan memasukkannya kedalam kantong Polybag. Matahari pun tidak lagi menyembunyikan sinarnya, bahkan dengan tidak sungkan-sungkan menyorotkan cahayanya yang terik kepada kami. Dan akhirnya dibawah sorot terik matahari, kami pun tiba di Pos V. di pos ini kami bertemu dengan Tim I yang sedang beristirahat. Di pos inilah kami sepakat untuk berkumpul. Selang 30 menit kemudian, akhirnya Tim III tiba di pos ini. Kami pun berkumpul untuk mengumpulkan sampah, mengambil air dan makan siang bersama. Kali ini Karmani yang bertindak selaku kepala Koki, Mantap!!

Dari Pos V menuju Pos VI kami melintasi bukit-bukit kecil yang di penuhi dengan batangan-batangan pohon yang melintangi jalanan diselingi dengan ladang edelweiss yang tumbuh dengan liar disana. Panorama yang indah untuk berpose memaksa kami untuk kembali mengambil gaya. Di pertengahan pos inilah tim I dan Tim II sepakat untuk meleburkan personil dengan alasan untuk lebih mempermudah perjalanan. Akhirnya, Rombongan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG terbagi menjadi 2 Tim. Karmani pun tinggal untuk memberikan HT kepada Tim Sweeper.

Di Pos VI kami kembali mengumpulkan sampah lalu kembali meneruskan perjalanan menuju pos VII. Medan ini ditandai dengan pendakian-pendakian relative pendek. Pendakian yang menguras energi ditambah dengan sorot matahari yang terik ditambah lagi dengan gangguan dari serangga-serangga kecil yang mengikuti dan terus terang sangat mengganggu kami. Pos VII ditandai dengan beberapa bongkahan batu besar. Sebuah bukit yang indah dengan beberapa bongkahan batu besar memaksa kami untuk kembali mengambil gaya berpose ria ala foto profil Facebook. Pada pos ini kami mendapati sebuah tong drum sampah dan menemukan beberapa receh uang koin dan beberapa batang rokok yang terselip dibawah batu; saya yakin, orang-orang tersebut dengan sengaja untuk menyimpannya disana entah untuk maksud apa.

Dari Pos VII kami melanjutkan perjalanan menuruni bukit pos VII lalu berjalan memasuki jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan pendek yang indah, kemudian memasuki hutan hujan yang lembab khas Bawakaraeng. Masih ditemani oleh serangga-serangga kecil kami pun harus menapaki pendakian khas bawakaraeng. Jalur yang lembab dan kabut tipis pun turun memaksa kami untuk mengancing dengan rapat Raincoat kami. Jalur pos inilah yang merupakan ciri khas pendakian Bawakaraeng, jalur yang menguras tenaga dan mencucurkan keringat. Pendakian yang panjang dan sangat membosankan, kemudian penurunan yang terjal untuk kembali mendaki. Terkadang melewati semak berduri dan bebatuan yang berlumut memaksa kami untuk memutar otak meletakkan kaki berpijak dengan hati-hati. Sungguh kombinasi antara tenaga dan akal. Pada salah satu penurunan, pada saat daya konsentrasi yang mulai menurun, ditambah dengan sesaknya dada akibat kabut tipis dan udara yang lembab, ditambah lagi dengan gangguan-gangguan dari serangga-serangga kecil; akhirnya saya yang salah menempatkan pijakan terjatuh dengan posisi tangan kanan yang hampir patah akibat mengapit dahan sementara tulang kering kaki kiri yang membentur sudut batu.SAKIT!! namun, kondisi yang sangat kelelahan dan udara yang dingin seolah memberikan sugesti untuk tidak memperhatikan luka tersebut. Dalam hati saya bernazar untuk menggunting celana saya apabila saya dapat berhasil tiba di Camp.Pos tanpa terhalangi oleh rasa sakit ini.

Pukul 15.58 WITA, kami tiba di Pos VIII. Karmani sebagai Korlap dalam perjalanan ini, Setelah melihat kondisi anggota rombongan yang kelelahan dan waktu yang sudah mendekati gelap, dengan pertimbangan dan keputusan yang tepat menghasilkan kebijakan untuk Camp di pos ini. Kami pun membongkar carrier untuk mengambil equipment-equipment, mendirikan tenda, dan mengambil air untuk keperluan selama camp di pos ini. Kami pun melakukan pengamatan suhu dengan alat bantu thermometer, suhu mencapai 6°c. Selang beberapa menit kemudian Tim Sweeper pun tiba di camp.

Menjelang magrib, makan malam pun telah siap dengan Tomo yang bertindak sebagai kepala Koki. Kami pun santap malam dengan dinginnya malam sabagai pelengkap hidangan ini. Beruntung kami menemukan tanah yang sedikit lapang untuk mendirikan 3 tenda dengan posisi yang saling berdekatan dan 1 tenda dengan posisi yang agak jauh. Cuaca yang sangat dingin yang mencapai hingga 2°c pada malam harinya dan kondisi badan yang kelelahan memaksa saya untuk segera menutup mata. Dan tentu saja sebelum menutup mata, saya harus menepati nazar saya yakni saya harus memotong celana saya menjadi celana pendek apabila saya dapat berhasil tiba di Camp.Pos tanpa terhalangi oleh rasa sakit pada betis akibat benturan kemarin.

Keesokan harinya, 14 Maret 2010, agak subuh kawan-kawan nampaknya sudah terbangun tapi saya masih agak berat untuk membuka mata. Dingin sekali, kawan..suhu mencapai angka 4°c!!! akhirnya pukul 06.30 WITA setelah mengumpulkan sampah dan bersiap-siap, rombongan pun kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak Gunung Bawakaraeng. Kali ini Faruk, Yude’, dan Ikha bertugas untuk stay di camp dan tentu saja mempersiapkan Makan siang dan membersihkan lokasi di sekitaran camp sementara rombongan yang lain menuju ke puncak.

Tepat pukul 07.56 WITA, setelah melalui Pos IX, rombongan tiba di Pos X. Dari sana Puncak Gunung Bawakaraeng sudah terlihat dengan jelas.rombongan akhirnya tiba puncak dengan kondisi yang kelelahan pada pukul 08.00 WITA. Namun letih dan lelah terbayar lunas oleh keindahahan puncak Gunung Bawakaraeng. Apalagi dengan cuaca yang sangat cerah tanpa kabut sama sekali. Momen ini tidak disia-siakan, kami pun mengambil gaya untuk berfoto bersama tugu trangulasi Bawakaraeng. Tidak cukup dengan hanya mengambil foto, kami pun mengabadikan momen ini dengan mengambil beberapa video menggunakan HP.

Setelah mencari dan mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan di sekitaran Puncak dan Pos X, kami pun memutuskan untuk kembali ke camp tepat pada pukul 09.10 WITA. Di sepanjang perjalanan turun dari puncak menuju camp, kami menemukan banyak sampah yang bertebaran. Kami pun memungutnya untuk kemudian dibawa turun. Pukul 11.30 WITA, rombongan tiba di camp pos VIII. Kami pun makan siang bersama hasil racikan koki ala resto buatan Faruk, Ikha, dan Yude’…setelah santap siang dan beristirahat sejenak, kami pun packing untuk kembali ke desa Lembanna. Setelah membagi Sampah kedalam Kantong Polybag dan Berdoa Bersama, Rombongan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG meninggalkan Camp.Pos VIII menuju Desa Lembanna tepat pada pukul 12.31 WITA.

Perjalanan balik dari Pos VIII menuju VII adalah seni pendakian khas perjalanan Bawakaraeng. Kondisi medan yang sangat menantang dengan segala rintangan disepanjang jalan menguras energi dan sangat menganggu mental kami. Pada sesi ini pulalah Luka Benturan pada tulang kering betis kaki kiri yang membengkak sangat tidak bisa diajak berkompromi. Nyeri dan sakitnya sangat menganggu membuat langkahku terganggu sehingga sebentar-sebentar saya harus berhenti untuk sekedar memberi perhatian lebih kepada Betis ini.

Perjalanan Pulang dari Pos VIII menuju Pos VII adalah perjalanan yang memakan waktu yang sangat lama, hal ini disebabkan medan pendakian yang sangat curam; Sayangnya kami tidak membawa altimeter untuk mengukur sudut dan kemiringannya. Dan akhirnya, pada kondisi ini rombongan menjadi terpecah-pecah. Tiba di Pos VII, Saya bersama Faruk dan Miko memutuskan untuk sejenak beristirahat sambil membakar sebatang rokok sambil sedikit obrolan dibawah sorotan terik matahari dan hembusan angin. Setelah sebatang rokok telah habis, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju desa lembanna. Kondisi betis yang semakin membengkak membuatku kembali harus memberikan perhatian ekstra kepadanya, saya harus berhenti lagi di Pos VI.

Dari Pos VI menuju Pos V memang relative lebih mudah, tapi dengan kondisi cuaca yang terik, fisik yang kelelahan, dan bahkan mental yang sudah mulai goyah, perjalanan menuju pos V terasa sangat melelahkan, membosankan, bahkan memaksa kami untuk berhenti dan terdiam tanpa bincangan. Seekor Elang Gunung pada pertengahan Pos VI dengan Pos V memberikan sedikit bahan sebagai bincangan namun itu pun juga tidak banyak membantu kami untuk menumbuhkan minat untuk kembali melanjutkan perbincangan. Kelelahan yang luar biasa ditambah dengan keyakinan yang sudah mulai luntur merupakan suatu hal yang paling menakutkan dalam suatu perjalanan. Pada kondisi ini, kita bisa mendapatkan kesempatan bisa menemui potret diri sendiri yang sedang berada dalam kondisi yang teramat susah dan potret diri sendiri itulah yang kita biasa sebut dengan istilah SAHABAT!!! Silahkan gali maknanya.

Mendekati Pos V, akibat kelelahan dan rasa sakit yang menyiksa betisku memaksaku untuk sejenak duduk dan menundukkan kepala dan tanpa sadar saya tertidur. Beruntung Karmani yang telah lebih dahulu tiba di Pos V kembali dan membantuku membawakan Bawaanku. Dengan langkah yang gontai saya pun kembali meneruskan perjalanan ke Pos V dan Pukul 14.02 WITA setibanya disana tidak dapat kutahan kantukku untuk segera terlelap. Di Pos V ternyata sudah terlebih dahulu ada Ryan, Karmani, Faruk, dan Miko. Saat itu langit sudah berubah menjadi mendung dan tertutup oleh kabut yang tebal. Cuaca pun menjadi dingin.

Cukup lama juga saya tertidur disana. Miko telah kembali melanjutkan perjalanan, yang berada di Pos V juga telah bertambah. Kali ini selain Karmani dan Ryan juga ada Tomo, Barak, Ikha, dan Faruk. Hujan Yang mengguyur Pos V telah membangunkanku dengan Paksa. Berlindung di bawah Semak bersama kawan-kawan membuat suasana yang dingin menjadi hangat. Apalagi dengan sajian Susu Hangat dan rokok. Hujan Akhirnya reda, namun baru saja kami bersiap-siap untuk berangkat, Hujan yang lebih deras kembali memaksa kami untuk bertahan disana hingga akhirnya Pukul 17. 15 WITA, setelah hujan akhirnya mulai reda, kami pun kembali meneruskan perjalanan. Target tiba sebelum Magrib kayaknya menjadi sebuah hal yang mustahil mengingat jarak yang masih jauh.

Secara tak sengaja rombongan kembali terpisah menjadi 2 tim. Saya, Tomo, dan Ryan berada dalam Tim yang di depan, sedangkan Karmani, Barak, Ikha, dan Faruk pada Tim yang di belakang. Sementara anggota rombongan yang lain sudah terlebih dahulu sudah berada di depan kami. Berkejaran dengan waktu, kami lebih memacu langkah kami. Nafas yang tersengal, badan yang menggigil, kondisi kaki yang sakit membuat kami nampak terlihat memprihatinkan. Tetapi kami tetap melanjutkan perjalanan.

Pos IV pun kami lalui, saat itu sudah menjelang Gelap dan hujan belum juga berhenti…kami lebih memacu langkah kami. Pos III, kami sejenak berhenti untuk sejenak menunggu tim yang di belakang. namun 5 menit berlalu mereka tak kunjung tiba, akhirnya kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Melewati sungai kemudian sedikit mendaki merupakan penanda dari pos III menuju Pos II pun telah kami lalui. Melewati semak belukar dan jalan yang berliku. Berbatu dan terkadang harus melewati batang pohon tumbang yang melintang. Dan akhirnya kami tiba di Pos II, tak lama kemudian tim yang di belakang pun kembali bergabung bersama kami.

Malam pun telah tiba, gelap dan hujan disertai angin yang lembut membuat mental semakin goyah. Saya kemudian mengeluarkan senter dari dalam tas. Dari Pos II menuju Pos I, hari sudah betul-betul berganti menjadi malam. Kali ini, hujan turun rintik-rintik…namun masih menyisakan angin yang membuat badan yang basah menjadi semakin menggigil. Dalam kondisi yang seperti inilah kami Sadar Ketika Mental dan Fisik Sudah Terkuras, Masih Ada Harga Diri Yang Akan Memandumu Pulang…

Setibanya di Pos I, akhirnya Saya dan Ryan memutuskan untuk berjalan lebih dahulu disebabkkan badan yang dingin akan semakin menggigil dan bahkan bisa terserang Hypotermhia. Dari Pos I menuju desa Lembanna sangatlah menegangkan, kondisi medan yang becek dan berlumpur membuat kami semakin berhati-hati dalam melangkah. Berlari-lari kecil dapat membuat badan menjadi hangat namun hal itu berarti Saya dan Ryan tidak berhati-hati dalam melangkahkan pijakan. Pos Berdoa pun telah kami lalui dan itu berarti Desa Lembanna sudah sangat dekat. Keluar dari Pos Berdoa kami harus melalui Kebun-kebun milik warga desa Lembanna. Jalanan yang becek semakin mempersulit langkah kami, malam yang mendung tanpa bintang membuat kami sulit untuk menemukan arah. Kami pun sempat bingung untuk keluar dari kebun ini. Setelah menemukan petunjuk, yakni lampu rumah penduduk dari kejauhan, kami pun kembali meneruskan perjalanan. Akhirnya, kami tiba di aspal desa Lembanna. Dari sini sudah sangat dekat untuk mencapai Home Base Kami di rumah Tata’ Rappe. Dengan langkah yang gontai, badan yang menggigil, serta fisik yang sudah sangat lelah akhirnya Saya dan Ryan tiba di Home Base tepat pada pukul 19.32 WITA. Disana kami disambut oleh kawan-kawan yang telah tiba lebih dahulu disana. Dan tepat pukul 20.03 WITA, akhirnya Tomo, Karmani, Barak, Faruk, dan Ikha pun juga telah tiba di Home Base.

Kondisi rombongan yang sangat memprihatinkan segera terganti menjadi suasana yang ceria setelah selesai menuntaskan tugas kami dalam kegiatan MAHESA BERSIH GUNUNG BAWAKARAENG. Dalam kegiatan ini kami berhasil mengumpulkan sampah-sampah dari gunung Bawakaraeng sebanyak 6 Kantong Polybag. Walaupun tidak maksimal, tetapi setidaknya hal itu bisa saja lebih berarti daripada tidak sama sekali. Setidaknya kami berusaha membuka mata bagi kalian para Pendaki atau kalian yang menamakan diri kalian sebagai Pencinta Alam bahwa akan lebih baik apabila mendaki bukan hanya untuk menambah sampah tetapi justru malah untuk menguranginya. Bukankah akan lebih baik jikalau Gunung itu tanpa sampah??

Setelah bersiap-siap, berganti pakaian dan melakukan packing ulang, pukul 21.13 WITA setelah berpamitan kepada sang pemilik Home Base; Tata’ Rappe, kami pun kembali Ke Makassar dengan Sebuah Mobil dan 4 buah Sepeda Motor. Rombongan menikmati makan malam di sebuah rumah makan di Malino, dan akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Namun, pada perjalanan ke Makassar, pada salah satu ruas jalan Gowa. Akibat rasa kantuk dan kondisi badan yang kelelahan sehingga Tomo yang bertindak selaku supir kehilangan konsentrasi berkendara sehingga Mobil yang kami tumpangi hampir saja menabrak Dinding sekolah dasar. Ban Mobil yang tercebur dalam got yang membuat mobil kesulitan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Beragam cara telah digunakan untuk mengangkat mobil ini namun selalu saja gagal. Beruntung tak ada korban dalam kecelakaan ini. Tomo, Mheeno, Agung, Barak, Ikha, Yude’, dan Saya masih diberikan kesempatan untuk hidup menjadi lebih baik. Nampaklah Faruk dan Karmani kembali dan membantu kami.

Setelah beberapa saat, Mobil akhirnya berhasil diangkat keluar dengan bantuan dari beberapa warga sekitarnya. Mobil pun kembali melaju Dan akhirnya Rombongan Tiba di MABES MAHESA pada pukul 00.46 WITA, 15 Maret 2010. Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang sangat mengesankan dan tidak akan mudah untuk dilupakan. Dan betul sekali: Ketika Mental dan Fisik Sudah Terkuras, Masih Ada Harga Diri Yang Akan Memandumu Pulang…Alhamdulillah.


Visit:
http://pojokalul.blogspot.com
http://mahesabaraya.blogspot.com

Gunung Ganda Dewata

Gunung yang terletak dibawah pengawasan administratif tiga kabupaten ini yaitu, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Kalumpang di propinsi Sulawesi Selatan. Puncak gunung ini juga merupakan puncak tertinggi dari jejeran pegunungan yang terbesar di pulau Sulawesi yaitu pegunungan Quarles. Butuh waktu 8 hingga 12 hari untuk mencapai puncak gunung ini, yang dikarenakan lokasinya yang cukup remote dan susahnya akses transportasi. Hal ini menyebabkan gunung ini jarang sekali didaki. Namun keindahan pemandangan dari puncak gunung ini tidak kalah dengan gunung lainnya. Kondisi hutan yang masih asli, fauna asli pulau Sulawesi banyak terdapat di gunung ini seperti Anoa dan burung Rangkong. Di gunung ini juga banyak dijumpai sungai-sungai yang berair jernih.

Akses Transportasi
Gunung ini bisa dicapai dari Mamasa, untuk mencapainya sbb:
Makasar (terminal luar kota) - Mamasa……Menumpang bus 3/4 +/- Rp.50.000/orang
Mamasa - Rante Pongko (desa terakhir) ….Menumpang Ojeg +/- 15.000/orang

Alternatif lainnya untuk menuju Mamasa:
Makasar - Panikang
Panaikang - Polewali
Polewali - Mamasa

Rute Pendakian
Ada 10 pos atau lokasi camp yang bisa digunakan selama pendakian di gunung ini. Lokasi-lokasi tersebut hanya berupa tanah datar. Perjalanan pendakian dari Pos I hingga Pos V melewati hutan yang masih asli serta keadaan jalan setapak yang naik turun punggungan bukit. Tidak jarang pendaki akan menemukan berbagai macam satwa hutan. Dari Pos I hingga Pos V paling tidak butuh 4 - 5 hari perjalanan (tergantung kecepatan ritme pendakian anda).

Dan di pos VI barulah kita bisa memandang puncak Gunung Ganda Dewata, akan tetapi dari Pos VI hingga puncak buth 2 hari perjalanan lagi. Pada Pos VII terdapat sumber air berupa sungai yang cukup besar dan berair jernih.

Perjalanan kembali menanjak cukup curam dan licin untuk mencapai Pos VIII dan hingga Pos IX. Pos XI cocok untuk bermalam sebelum summit attack ke esokan harinya.

Dari Pos IX menuju puncak jalur pendakiannya melewati jalur yang banyak ditumbuhi oleh lumut hingga semata kaki, banyak pohon tumbang karena daerah ini cukup terbuka dan berangin kencang. Ada beberapa dinding tebing yang longsor. Butuh waktu tempuh sekitar 4 jam dari Pos IX hingga puncak. Dipuncak Gunung ini terdapat tiang trianggulasi. Dari puncak gunung ini bisa dinikmati pemadangan indah jejeran pegunungan Sulawesi seperti pegunungan Latimojong dan gunung Kambuno. GUnung Ganda Dewata ini memang butuh persiapan yang cukup matang untuk mendakinya, namun suguhan pemandangan alam yang anda dapat setimpal dengan usaha yang telah dilakukan.

Perijinan
Untuk perijinan tidak begitu spesifik, para pendaki hendaknya saat sampai di Mamasa mampir untuk memintah ijin kepada orang atau tokoh adat yang dituakan disana yaitu Pak Daun. Ada baiknya juga membawa surat jalan dari organisasi/club atau RT/RW dan surat jalan dari kepolisian sebagai backup

Gunung Talamau

Tinggi : 2920 mdpl.
• Letak : di desa Pinagar Kec. Pasaman Kab. Pasaman Sumatera Barat. (Peta JANTOP TNI AD tahun 1982 helai peta 1225-II).
• Karakteristik : gunung api tidak aktif, ditutupi hutan hujan tropis, mempunyai 13 telaga pada ketinggian 2750 mdpl, trek pendakian tidak begitu terjal.

• Jalur Pendakian Pinagar
-Titik start : desa Pinagar (250 mdpl), Kec. Pasaman Kab. Pasaman, lama pendakian normal + 7 jam. Berjarak + 190 Km dari Padang.

Terbantung dari mana startnya - Terminal Regional Bingkuang Padang (Rp.xxx.xxx,xx),
Terminal Bingkuang - Terminal Pasaman (Rp. 11.000,-) dengan Bus jurusan Padang-Pasaman PO. Mandala, Pastra dan sebagainya
Terminal Pasaman - Desa Pinagar (Rp. 3.000.)

• Kondisi Medan :
* Desa Pinagar (Pos I) - Pos II + 2,5 jam (+4 km): landai/jalan berbatu, ladang penduduk, terdapat sumber air.
* Pos II - Shelter I (600 mdpl) + 2,5 jam (+ 3,5 km) : tanjakan ringan sampai agak terjal, hutan sekunder - hutan primer - hutan sekunder, terdapat sumber air.
* Shelter I - Shelter II (1800 mdpl) + 3 jam (+ 3 km): tanjakan terjal, terdapat sumber air.
* Shelter II - Shelter III (2500 mdpl) + 2 jam (+ 2,5 km): tanjakan terjal, terdapat sumber air.
* Shelter III - Puncak + 1,5 jam : tanjakan ringan, padang rumput, telaga, medan terbuka, sumber air telaga banyak.

. Perizinan :
Surat tugas dari organisasi, bagi pendaki cewek harus ada surat izin dari orang tua dan lapor di Pos II atau pada kepala desa di desa terakhir. Untuk pendakian Gn Talamau dikenakan biaya Rp. 4000 yang bayar di pos II.

• Potensi : Telaga 13 buah, bunga Edelweiss, Panorama gunung Talang,Merapi, Singgalang dan Samudera Hindia.

Gunung Raung

Gn. Raung merupakan bagian dari kelompok pegunungan Ijen yang terdiri dari beberapa gunung, diantaranya Gn.Suket (2.950mdpl), Gn.Raung (3.332mdpl), Gn.Pendil (2.338), Gn.Rante (2.664), Gn.Merapi (2.800), Gn.Remuk (2.092), dan Kawah Ijen.

Gunung Raung adalah sebuah gunung yang besar dan unik, yang berbeda dari ciri gunung pada umumnva di pulau Jawa ini. Keunikan dari Puncak Gunung Raung adalah kalderanya yang berbentuk elips dengan kedalaman sekitar 500 meter dalamnya, yang selalu berasap dan sering menyemburkan api dan terdapat kerucut setinggi kurang lebih 100m. Gn.Raung termasuk gunung tua dengan kaldera di puncaknya dan dikitari oleh banyak puncak kecil, menjadikan pemandangannya benar-benar menakjubkan.

Untuk mendaki G. Raung, paling mudah adalah dari arah Bondowoso. Dari Bondowoso terus menuju desa Sumber Wringin dengan menggunakan Colt melalui Sukosani. Perjalanan diawali dari desa Sumber Wringin melalui kebun pinus dan perkebunan kopi menuju Pondok Motor. Di Pondok Motor kita dapat menginap dan beristirahat, kemudian kita dapat melanjutkan perjalanan ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 9 jam.

Dari Pondok Motor ke G. Raung, dimulai dengan melalui kebun selama 1 jam lalu pendakian memasuki hutan dengan sudut pendakian yang tidak terlalu besar yaitu sekitar 20 derajat. Hutan gunung ini terdiri dari pohon glentongan, arcisak, takir dan lain-lain.

Setelah pendakian selama 2 jam atau sekitar 1300 - 1400 m pendaki akan menemukan jalan berkelok dan naik turun sampai ketinggian sekitar 1500 - 1600 m. Di daerah ini mulai terlihat pohon cemara lalu pendakian diteruskan menuju pondok sumur (1750 M). setelah itu pendakain akan mulai sulit dan sudut pendakian mulai membesar dan jalur pendakian kurang jelas karena hanya semak-semak dan kemudian terus mendaki selama 3 jam hingga dicapai Pondok Demit.

Kemudian pendaki harus mendaki lagi selama sekitar 8 jam hingga dicapai batas hutan, yang dikenal dengan nama Pondok Mantri atau Parasan pada ketinggian sekitar 2900 - 3000 m. di tempat inilah pendakian beristirahat untuk berkemah. Perjalanan dilanjutkan melalui padang alang-alang (sekitar 1 jam perjalanan), selanjutnya menuju puncak Gunung Raung yang sedikit berpasir dan berbatu-batu. Dari tempat berkemah menuju puncak G. Raung, hanya diperlukan waktu sekitar 2 (dua) jam saja.

Puncak G. Raung ini berada pada ketinggian 3.332 m dari permukaan laut dan sering bertiup angin kencang. Dari pinggir kawah tidak terdapat jalur yang jelas untuk menuju dasar kawah sehingga pendaki yang bermaksud menuruni kawah agar mempersiapkan tali temali ataupun peralatan lainnya untuk sebagai langkah pengamanan.

Dalam perjalanan ke Puncak G. Raung, tidak ada mata air. Sebaiknya untuk air dipersiapkan di Sumber Wringin atau di Sumber Lekan. Untuk mendaki G. Raung tidak diperlukan ijin khusus, hanya saja kita perlu melaporkan diri ke aparat desa di Sumber Wringin.

Gunung Slamet (3.432m)

Gunung Slamet adalah gunung tertinggi di Jawa Tengah dan merupakan gunung tertinggi kedua di P. Jawa dengan ketinggian 3.432m. Pada masa penjelajahan dunia yang pertama Sir Frances Drake ketika melihat Gunung Slamet, segera mengarahkan perahunya dan berlabuh di Cilacap.

Gn. Slamet dapat didaki melalu 3 jalur, lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut yang terdekat adalah lewat Bambangan, selain pemandangannya indah juga banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak slamet.

JALUR BAMBANGAN

Jalur Bambangan adalah jalur yang sangat populer dan merupakan jalur yang paling sering didaki. Route Bambangan merupakan route terpendek dibandingkan route Batu Raden dan Kali Wadas. Dari kota Purwokerto naik bus ke tujuan Purbalingga dan dilanjutkan dengan bus dengan tujuan Bobot sari turun di Serayu. Perjalanan disambung menggunakan mobil bak angkutan pedesaan menuju desa Bambangan, desa terakhir di kaki gunung Slamet.

Di dusun yang berketinggian 1279 mdpi ini para pendaki dapat memeriksa kembali perlengkapannya dan mengurus segala administrasi pendakian.
Pertama-tama menuju pos Payung dengan keadaan medan terjal dengan arah belok kanan. Pendaki akan melewati ladang penduduk selama 1 jam. Pos Payung merupakan pos pendakian yang menyerupai payung raksasa dan masih berada di tengah-tengah perkebunan penduduk. Selepas pos Payung pendakian dilanjutkan menuju pondok Walang dengan jalur yang sangat licin dan terjal di tengah-tengah lingkungan hutan hujan tropis, selama kurang lebih2 jam. Selepas pondok Walang, medan masih seperti sebelumnya, jalur masih tetap menanjak di tengah panorama hutan yang sangat lebat dan indah, selama kira-kira 2 jam menuju Pondok Cemara.
Sebagaimana namanya, pondok Cemara dikelilingi oleh pohon cemara yang diselimuti oleh lumut. Selepas pondok Cemara pendakian dilanjutkan menuju pos Samaranthu. Selama kira-kira 2 jam dengan jalur yang tetap menanjak dan hutan yang lebat.
Samaranthu merupakan pos ke 4. Kira-kira 15 menit dari pos ini terdapat mata air bersih yang berupa sungai kecil. Selepas Samaranthu, medan mulai terbuka dengan vegetasi padang rumput.



Pendaki akan melewati Sanghiang Rangkah yang merupakan semak-semak yang asri dengan Adelweiss di sekelilingnya, dan sesekali mendapati Buah Arbei di tengah-tengah pohon yang menghalangi lintasan pegunungan. Pendaki juga akan melewati Sanghiang Jampang yang sangat indah untuk melihat terbitnya matahari. Kira-kira 30 menit kemudian pendaki akan tiba di Plawangan.

Plawangan (lawang-pintu) merupakan pintu menuju puncak Slamet. Dari tempat ini pendaki akan dapat menikmati panorama alam yang membentang luas di arah timur. Selepas Plawangan lintasan semakin menarik sekaligus menantang, selain pasir dan bebatuan sedimentasi lahar yang mudah longsor pada sepanjang lintasan, di kanan kiri terdapat jurang dan tidak ada satu pohon pun yang dapat digunakan sebagai pegangan.



Di daerah ini sering terjadi badai gunung, oleh karena itu pendaki disarankan untuk mendaki di pagi hari. Kebanyakan pendaki meninggalkan barang-barang mereka di bawah, untuk memperingan beban. Dari Plawangan sampai di puncak dibutuhkan waktu 30- 60 menit. Dari sini pendaki dapat melihat puncak Slamet yang begitu besar dan hamparan kaldera yang sangat luas dan menakjubkan, yang biasa disebut dengan Segoro Wedi.

JALUR KALIWADAS

Kaliwadas merupakan sebuah dusun yang berketinggian 1850 mdpi dan masuk wilayah Desa Dawehan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, atau tepatnya berada pada barat daya lereng Gunung Slamet. Untuk menuju Kaliwadas dapat ditempuh dari kota Bumiayu menuju Pangasinan dengan menggunakan Angkutan Pedesaan jenis Colt yang memakan waktu 2 jam. Setiba di Pasar Pangasinan, perjalanan dilanjutkan menuju Kaliwadas dengan menggunakan Jeep Hardtop atau menggunakan angkutan umum jenis kendaraan terbuka yang beroperasi hingga pukul 18.00.

Pendaki dapat menyiapkan segala perbekalan dan perizinan dari Kaliwadas ini. Kira -kira 300 m selepas jalan desa, pendaki diarahkan menuju jalan setapak. Satu jam kemudian pendaki akan melewati Tuk Suci yang oleh penduduk setempat diartikan sebagai mata air suci. Di Tuk Suci ini terdapat aliran air yang dibendung, yang berfungsi sebagai pengairan desa di bawahnya. Selepas Tuk Suci, medan mulai menanjak menembus lorong-lorong tumbuhan Bambu yang berukuran kecil. Penduduk sekitar menyebutnya Pringgodani. Enam puluh menit kemudian pendaki akan tiba di pondok Growong.

Pondok Growong merupakan tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Di sekitar area ini banyak ditemukan pohon besar yang di bawahnya terdapat lubang berukuran cukup besar. Selepas pondok Growong lintasan relatif datar sampai pada sebuah jembatan kecil yang bemama taman Wlingi, yang berada di ketinggian 1953 mdpl. Di daerah ini terdapat persimpangan, lintasan yang lurus dan lebar menuju ke Sumur Penganten. Berjarak 500 m dari area terdapat sumber air, yang juga merupakan sebuah tempat keramat di mana banyak peziarah yang datang untuk meminta berkah.


Jalur ke kiri merupakan lintasan yang menuju ke puncak. Keadaan lintasan semakin menanjak. Di sepanjang lintasan mulai banyak dijumpai pohon tumbang dan pohon penyengat. Lintasan kadang tertutup oleh semak belukar sehingga pendaki harus waspada agar tidak tersesat. Lintasan mulai kembali melebar ketika pendaki melewati persimpangan Igir Manis yang berada di ketinggian 2600 mdpl. Di sekitar area ini akan didapati tetumbuhan Adelweiss dan tetumbuhan Arbei. Setelah itu pendaki akan sampai di Igir Tjowek yang berada di ketinggian 2750 mdpl. Daerah ini masuk kawasan Gunung Malang. Di sini terjadi pertemuan jalaur ini dengan jalur Baturaden. Beberapa meter kemudian barulah pendaki tiba di Plawangan.

Plawangan merupakan sebuah tanah yang cukup datar di daerah terbuka, sekaligus merupakan batas vegetasi. Untuk menuju puncak dibutuhkan waktu kira-kira 2 jam. Pendaki dapat berangkat pagi agar dapat menikmati keadaan puncak dan sekitamya dalam keadaan cuaca cerah. Selepas Plawangan lintasan semakin tajam hingga mencapai sudut pendakian 60. Selanjutnya keadaan lintasan semakfn parah dengan medan bebatuan vulkanik yang mudah longsor. Bau belerang terasa menyengat dari kawah ketika pendaki tiba di puncak bayangan. Setiba di daerah ini, pendaki tinggal melipir pada gigir kawah menuju arah timur.



Setelah melewati Tugu Surono yang berupa tumpukan batu, pendaki akan sampai di puncak tertinggi Gunung Slamet yang ditandai dengan patok triangulasi dan tower. Dulu tempat ini juga digunakan sebagai pemantauan aktivitas gunung api ini. Di puncak tertinggi kedua se-Jawa ini pendaki dapat menyaksikan pemandangan pada arah timur. Tampak beberapa puncak seperti Gunung Sumbing, Sundoro, Merbabu, Merapi, dan puncak Ciremai di arah barat. Semuanya berdiri kokoh sekan-akan menjadi pasak bumi Pulau Jawa.

JALUR BATU RADEN

Dari kota Purwokerto menuju tempat wisata Batu Raden menempuh jarak 15 km arah utara dan dapat ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan Angkutan umum. Batu Raden yang merupakan daerah wisata yang terkenal dengan Pancuran Telu dan Pitu ini berada di ketinggian 760 mdpl. Pancuran tersebut merupakan aliran mata air panas yang mengandung belerang. Jalur ini merupakan jalur tersulit dan jarang dilalui pendaki.
Selepas pal Taman Wisata Batu Raden, lintasan berbelok ke kanan dan menurun. Dalam perjalanan menuju pos I banyak ditemui cabang lintasan, yang merupakan jalan tikus yang banyak dibuat oleh penduduk setempat. Di tengah perjalanan pendaki akan melewati sebuah sungai. Setelah itu lintasan kembali datar dengan sajian jurang yang menganga pada sisi kanan lintasan. Untuk sampai di pos I dibutuhkan waktu selama 3 jam.

Selepas pos I lintasan mulai menanjak dengan sajian hutan yang rimbun dan asri, selama 2 jam. Untuk sampai di pos III dibutuhkan waktu selama 3 jam dengan lintasan yang tidak begitu menanjak. Vegetasi di pos III masih dalam kungkungan hutan hujan Tropis. Selepas itu pendaki akan melipir pada sebuah punggungan tipis yang berada di ketinggian 1664 mdpl. Daerah tersebut bemama Igir Leiangar. Selepas pos IV, tepatnya di puncak Gunung Malang, akan ditemui persimpangan dengan jalur Kaliwadas. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju ke Plawangan, lalu berbelok ke kanan menuju puncak Slamet.

Gunung Rinjani (3.726 m)

Gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726mdpl, mendomonasi sebagian besar luas pulau Lombok. Terletak disebelah timur pulau Bali, dapat ditempuh dengan bus langsung Jakarta-Mataram dengan menyeberang menggunakan ferry dua kali (selat bali dan selat lombok). Dapat juga ditempuh dengan menggunakan pesawat terbang dari Bali.

Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi ke dua di Indonesia di luar pegunungan Irian Jaya. Gunung Rinjani masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani, dengan luas taman sekitar 40.000 hektar. Dikelilingi oleh hutan dan semak belukar seluas 76.000 hektar.

Gunung Rinjani memiliki kawah dengan lebar sekitar 10 km, terdapat danau kawah yang disebut danau Segara Anak dengan kedalaman sekitar 230m. Air yang mengalir dari danau ini membentuk air terjun yang sangat indah, mengalir melewati jurang yang curam. Danau Segara Anak ini banyak terdapat ikan mas dan mujair, sehingga sering digunakan untuk memancing. Dengan warna airnya yang membiru, danau ini bagaikan anak lautan, karena itulah disebut “Segara Anak”.

Danau segara anak menyimpan berbagai misteri dan dan kekuatan gain, itulah sebabnya manusia merasa betah tinggal lama di tempat ini. Disinilah komunitas mahkluk gaib yang disebut Jin bermukim dalam jumlah yang sangat banyak. Keyakinan masyarakat apabila Danau Segara Anak terlihat luas menandakan bahwa umur orang orang yang melihat itu masih panjang. Sebaliknya jika tampak sempit maka menandakan umur si penglihat pendek, untuk itu harus melakukan bersih diri artinya harus berjiwa tenang, bangkitkan semangat hidup, pandang kembali danau sepuas-puasnya.

Setiap tahun diadakan upacara adat di danau ini baik oleh masyarakat yang beragama Hindu Bali atau pun Islam masyarakat Sasak. Masyarakat Hindu Bali dua kali setahun mengadakan upacara agama di danau ini. Masyarakat Sasak bisa beberapa kali mengadakan perjalanan dalam satu tahun. Terdapat air terjun kokok putih dan juga air panas yang sering dikunjungi orang untuk tujuan pengobatan

alur yang biasa digunakanan para pendaki ialah jalur Sembalun Lawang yang panjang dan jalur Senaru yang lebih pendek namun lebih terjal.

Desa Senaru terletak di wilayah Lombok Barat, berjarak sekitar 80 km dari kota Mataram, berada di sebelah utara lereng Rinjani. Terdapat juga air terjun yang sangat menarik, yakni air terjun Sinanggile. Di desa inilah terdapat kantor Rinjani Trek Center yang berada pada ketinggian 601 mdpl.

Curah hujan yang terjadi berkisar antara 2.000 - 4.000 mm/tahun. Pada bulan desember - januari biasanya ombak di selat lombok sangat besar sehingga sangat menyiksa bagi yang mabuk laut. Perjalanan ferry dari Bali ke Lombok bisa lebih lama bila sedang musim ombak besar lebih dari 2 jam.

Curah hujan yang terjadi berkisar antara 2.000 - 4.000 mm/tahun. Pada bulan desember - januari biasanya ombak di selat lombok sangat besar sehingga sangat menyiksa bagi yang mabuk laut. Perjalanan ferry dari Bali ke Lombok bisa lebih lama bila sedang musim ombak besar lebih dari 2 jam.

Disebelah selatan dan barat Gunung Rinjani di tumbuhi hutan hujan semi selalu hijau primer. Pada ketinggian 1.000 - 2.000 meter banyak ditumbuhi Dysoxylum sp, pterospermum, dan Ficus superba. Pada ketinggian 2.000 - 3.000 meter banyak ditumbuhi cemara gunung Casuarina junghuhniana. Pada ketinggian diatas 3.000 meter yang miskin akan tumbuhan, hanya ditumbuhi rumput dan edelweiss ( Anaphalis javanica ). Di sebelah timur gunung yang bertiup angin musim kering, banyak ditumbuhi pohon acasia. Puncak Gunung Rinjani diyakini oleh masyarakat Lombok sebagai tempat bersemayam ratu jin, penguasa gunung Rinjani yang bernama Dewi Anjani. Dari puncak ke arah tenggara terdapat sebuah kaldera lautan debu yang dinamakan Segara Muncar. Pada saat-saat tertentu dengan kasat mata dapat terlihat istana Ratu Jin. Pengikutnya adalah golongan jin yang baik-bauk. Menurut kisah masyarakat Lombok Dewi Anjani adalah seorang putri raja yang tidak diijinkan oleh ayahnya menikah dengan kekasih pilihannya, maka ia pun menghilang di sebuah mata air yang bernama Mandala, dan akhirnya dia menjadi penguasa dunia gaib

Diantara 109 jenis burung yang tercatat di gunung Rinjani, terdapat beberapa diantaranya adalah jenis burung yang ada di Australia. Terdapat monyet perak yang berasal dari bali, rusa, dan landak. Di Pelawangan Sembalun terdapat monyet ekor panjang yang suka menggangu kemah para pendaki, mereka sangat pandai membuka tenda untuk mengambil makanan, jangan pernah meninggalkan tenda tanpa penjaga, selain itu monyet-monyet sangat garang dan berani

Jalur Senaru
Senaru - Pos 2 2 Jam
Pos 2 - Pos 3 ( tempat kamping ) 2 Jam
Pos 3 - Plawangan 1 2 Jam
Plawangan 1 - Perkemahan 2 Jam
Perkemahan - Plawangan 2 3 Jam
Plawanagn 2 - Puncak 3 Jam

Jalur Sembalun Lawang
Sembalun Lawang - Pos I 5 jam
Pos I - Pos II 1 jam
Pos II - Jembatan Bolong
Jembatan Bolong - Persimpangan
Persimpangan - Bukit penyesalan
Bukit penyesalan - Pos III
Pos III - Plawangan 2
Plawangan 2 - Puncak Rinjani 3 jam
Plawangan 2 - Danau Segara Anak 3 jam

Gunung Agung

• Pendakian menuju puncak Gunung Agung dapat dicapai dari beberapa jalur pendakian :
» Jalur Besakih
» Jalur Selat
» Jalur Datah
» Jalur Tanah Aron

Jalur Besakih :

Aktifitas pendakian yang sangat dipengaruhi oleh upacara-upacara keagamaan, dalam artian Pendakian Gunung Agung hanya dapat dilakukan jika tidak ada upacara keagamaan. Pada hari raya Kuningan atau Galungan misalnya, pendakian baru dapat dilakukan setelah 14 hari kemudian.
Upacara keagaaman lainnya yang biasa dilakukan penduduk setempat di pura (Pure Agung Besakih), biasanya berkaitan dengan ditutupnya aktifitas pendakian upacara Eka Dsa Rudra (100 tahun sekali, pada bulan Maret), upacara Panca Wali Krama (10 tahun sekali, pada bulan Maret), upacara Bhetara Turun Kabeh (1 tahun sekali, pada bulan April).

Dari Denpasar ke desa Besakih harus naik angkot penduduk sekitar menyebutnya Bemo. Tiba di terminal Menanga jangan diatas jam 14.00 WITA karena udah ada kendaraan lagi. [taon 2000, gak tau kalo sekarang]
Dari Pure Besakih, jalur ini memiliki undakan, setelah melalui jalan setapak kita akan menemukan dua bangunan yang mirip pos pendaki, penduduk sekitar menyebutnya Bale Bengong.

Setelah melakukan pendakian kurang lebih 8 jam dan melewati medan berbatu bercampur pasir, ditambah sinar matahari yang menyengat, cukup menguras tenaga. Tiba di pos Boike (Pendaki), penduduk setempat menamainya Corri Agung yang biasa digunakan pendaki untuk nge-camp. dari sini gak terlalu jauh lagi menuju puncak.

Peg.Latimojong (G. Rantemario 3478 mdpl)

puncak Rantemario dengan ketinggian 3.478 mdpl. Pegunungan Latimojong yang berada di Kabupaten Enrekang ini bertipe tidak aktif dan mempunyai banyak sekali puncak-puncak dan tiga diantaranya adalah merupakan puncak tertinggi di Sulawesi yaitu Buntu ( puncak ) Rantemario 3.478 mdpl, Buntu Nenemori 3.397 mdpl, Buntu Ranetekombala 3.087 mdpl. Pegunungan ini membujur dari Barat ke Timur, dan melintang dari Utara ke Selatan.

urutan puncak-puncak Pegunungan Latimojong yang membujur dari Utara ke Selatan yaitu :
¨ Buntu Sinaji 2.430 mdpl
¨ Buntu Sikolong 2.754 mdpl
¨ Buntu Rantekombala 3.083 mdpl
¨ Buntu Rantemario 3.478 mdpl
¨ Buntu Nenemori 3.097 mdpl
¨ Buntu Bajaja 2.700 mdpl
Sedangkan puncak yang melintang dari Barat ke Timur yaitu :
¨ Buntu Pantealoan 2.500 mdpl
¨ Buntu Pokapinjang 2.970 mdpl
¨ Buntu Rantemario 3.478 mdpl

Pegunungan Latimojong yang terdiri dari beberapa puncak dapat didaki dari berbagai jalur karena letaknya di tengah-tengah Kab. Tana Toraja, Kab. Enrekang, Kab. Luwu Utara, dan Kab. Sidrap. Namun dari
informasi yang didapat jalur standar yang banyak di daki oleh para pendaki adalah melalui Kab. Enrekang .
Jalur akses yang umum digunakan adalah dari Desa Pasui, desa Pasui ini dapat di capai dari arah Makasar yang tepatnya terminal Panaikang dengan menggunakan kendaraan jenis Kijang atau Panther yang bermuatan 10 orang, jenis kendaraan ini juga dapat melewati desa Baraka sebelum desa Pasui dengan ongkos Rp. 30.000 per orang. Kendaraan yang menuju desa Pasui ini mangkal di terminal Panaikang setiap hari dengan jam-jam tertentu seperti jam 8 pagi, jam 1 siang dan jam 8 malam. Keberangkatan angkutan ini juga bisa mundur atau maju tergantung ada atau tidaknya penumpang. Adapun untuk waktu tempuh dari terminal Panaikang - Desa Pasui adalah ± 6 jam.
Selain menggunakan kendaraan jenis Kijang atau Panther, kita juga dapat menggunakan alternatif lain yaitu mengguanakan bus Toraja dan turun di Cakke. biayanya adalah Rp.35.000 kemudian dilanjutkan dengan menggunakan angkot menuju Desa Pasui dengan biaya Rp.5.000. Angkot ini hanya ada sore hari yaitu jam 5 sore.

Dari desa Pasui kemudian lanjutkan perjalanan menuju Bangkan dengan berjalan kaki dengan waktu tempuh ± 30 menit. Bangkan merupakan tempat mangkalnya mobil-mobil Hardtop.
Dari Bangkan menuju Kalaciri, adapun biayanya Rp.10.000/orang dan mobil ini mangkal pada hari senin, rabu, kamis dan minggu. Namun mobil ini tetap standby setiap hari di Bangkan dan berjalan bila ada muatan. Dari Kalaciri untuk menuju dusun terakhir yaitu dusun Karangan kita harus menempuh dengan berjalan kaki dengan melewati Desa Latimojong yang biasanya tempat melapor para pendaki ke kepala desa tersebut yang bernama Pak Badusi. Biasanya pendaki juga bisa memakai rumah Pak Badusi untuk bermalam jika kemalaman saat sampai di Desa Latimojong atau yang disebut juga dengan dusun Rantelemo.Menuju desa terakhir, selain melalui Passui dan Bangkan dapat juga dilalui melalui Baraka dari situ dapat naik kendaraan truk menuju Buntudea atau dari Passui berjalan ke Buntugura dan meneruskan ke Buntudea naik truk tadi dengan ongkos Rp.10.000, dari Buntudea berjalan kaki menuju dusun Karangan kira-kira 2 jam.

Gunung Argopuro

Gunung Argopuro memiliki banyak puncak, beberapa puncaknya mempunyai struktur geologi tua dan sebagian yang lainnya lebih muda. Puncak Argopuro berada pada ketinggian 3.088 m dari permukaan laut.

Untuk mendakinya ada beberapa jalur, antara lain lewat Baderan Besuki atau lewat desa Bremi, Kab. Probolinggo. Tetapi dianjurkan lewat desa Bremi saja karena lebih cepat.

Untuk mencapai desa Bremi sangat mudah karena ada bis umum yang menuju desa ini dua kali sehari dari Terminal Bis Probolinggo, Jam 06.00 pagi dan jam 12.00 siang Sebaiknya para pendaki bermalam di desa ini. Di desa Bremi terdapat penginapan yang cukup murah dan sederhana. Penginapan ini rupanya bekas peninggalan zaman Belanda dan memiliki ciri tersendiri. Disamping itu kanan kiri penginapan ini memiliki pemandangan yang asli dan alami. Sebelum mendaki kita harus melapor pada polisi atau petugas PHPA setempat untuk meminta ijin pendakian.

Esok harinva setelah benjalan 3 jam rnelalui perkebunan damar dan hutan tropis kita sampai di Danau Taman Hidup yang airnya dapat Dipergunakan untuk minum maupun memasak. Kita dapat mendirikan tenda dan bermalam di sekitar danau. maupun dekat sungai yang letaknya agak atas. Danau Taman Hidup teramat unik dengan kehijauan hutan tropis yang rimbun, dipadu dengan beraneka ragaman ikan yang melimpah. sangat mudah dipancing bahkan ditangkap dengan tangan.

Pagi harinva, kita dapat meneruskan pendakian ke puncak dengan mengitari sepanuh danau kearah kiri, dengan menempuh perjalanan sekitar 6 jam. Puncak Argopuro disebut Puncak Dewi Renganis . karena disana terdapat patung Dewi Renganis. Puncak Dewi Renganis ini merupakan bekas kawah belerang.

Turun dari Puncak Argopuro kita dapat memilih turun dengan rnengitari gunung lewat Alun-alun Besar kemudian menuju Besuki lewat Baderan. Alternatif lainnya yakni kembali lewat jalan semula yaitu Bremi.

Alun-alun Besar adalah hamparan padang rumput yang luas, dan pernah direncanakan sebagai landasan pesawat terbang militer pada saat tentara pendudukan Jepang.

Gunung Argopuro jarang didaki, hanya pada waktu~waktu tertentu saja, saat liburan sekolah atau musim kemarau. Gunung Argopuro sesungguhnya merupakan gunung yang menarik, karena selain pemandangannya yang indah, gunung ini juga dikenal memiliki banyak peninggalan bersejarah dari jaman kerajaan sampai masa pendudukan Jepang.

Hutan di kawasan G. Argopuro merupakan hutan yang masih asli. Binatang¬-binatang liar masih banyak kita jumpai di daerah ini, seperti kijang, monyet, babi hutan, burung merak, ular, dan lainnya.

Gunung Arjuno

jalur pendakian via tretes…. yang paling gampang levelnya. ini pengalaman 11 taon yang lalu, semoga masih valid

- dari surabaya ato malang naek bis ke pandaan
- dari terminal pandaan naek angkot ke tretes
- cari wana wisata aer terjun kakek bodo. pos jagawana untuk lapor pendakian ada di deket situ
- awal jalur pendakian dari wana wisata
- jalurnya cuman satu, jadi ndak bakal bingung. ato kalo bingung, ikutin aja orang yang ngangkut belerang.
- air ada di pos 1 (kokopan) dan pos 2 (pondokan pencari belerang).
- sampe pos 2 jalannya relatif gampang, ndak bakal nyasar.
- di pos 2 jalan bercabang, kalo posisi naek, yang ke kanan ke arah gunung welirang, yang ke kiri arah gunung arjuno.
- after pos 2 bakal ketemu tanah agak lapang, konon di sana agak angker , dari sana bisa kliatan tebingnya gunung arjuno trus kliatan juga kalo gunungnya masih jaoh .
- ambil jalan yang menyusur ke kanan, ikuti aja terus jalan setapak yang ada. nanti ke puncak lewat punggungan sebelah kanan (barat).
 ketemu puncak pertama, ada banyak batu seperti disusun2 membentuk kotak-kota bentengan….. itu blom puncak konon itu namanya pasar setan, dari sana kliatan puncak yang satunya lagi…. lha itu yang puncak beneran.

Gunung Gede

Lewat Cibodas

Naik Gn. Gede lewat cibodas sudah dilakoni pendaki sejak zaman belanda. tentu saja rutenya sedikit berbeda yg dipakai sekarang. Tapi prinsip dasarnya kita harus memenuhi syarat administrasi terlebih dulu. Liat ke situs tngp atau browsing di milis pangrango untuk syarat.Info TNGP, telepon ke 0263-519415. Terus Faksimili ke nomor yg sama. Kalau Anda tinggal jauh dari kawasan cipanas, dan ingin daftar dari jauh juga (ga datang dulu ke cibodas), sekarang udah bisa.

Caranya, minta info soal masih ada apa nggak tempat. Seperti diketahui, pendakian gunung gede dibatasi cuma 600 orang perhari, yang dibagi-bagi untuk jalur cibodas, gunung putri en salabintana

Minta info ke nomor telepon tadi. Terus faks fotokopi KTP anda dan anggota rombongan anda ke nomor tadi juga

selanjutnya transfer biaya ke nomor rekening 133-0003133550 bank mandiri cipanas a.n. BN TNGP

kalau sudah semuanya, sebelum berangkat ke cibodas, pastikan kembali apakah rombongan anda sudah terdaftar. Ingat, petugas akan menolak rombongan manapun yg tidak terdaftar, meski udah datang jauh2 dari kalimantan sekalipun!

awal pendakian adalah dari kantor penjaga tngp di cibodas. dari sini jalanan sudah diperbaiki sehingga lebih landai. Sekitar 45 menit berjalan, kita akan melewati kawasan Telaga Biru dan sampai di pertigaan Air terjun Cibeureum.

Ambil jalur ke kiri yang menanjak. Sekitar 2-3 jam kemudian kita akan melintasi air panas. Dan sekitar 1 jam kemudian sampai di shelter Kandang Badak setelah sebelumnya melewati shelter kandang batu.

Dari Kandang Badak, pendakian memerlukan waktu 1-2 jam sebelum sampai di puncak Gede.

Lewat Gunung Putri

Orang suka naik lewat Gunung Putri karena lebih cepat sampai. Kalau berjalan normal, dalam 5-6 jam kita udah bisa sampai di sisi timur alun-alun Suryakencana Gunung Gede.

Syarat pertama tentu kita musti ngelengkapin dulu segala persyaratan administrasi (lihat info naik gede lewat cibodas). Abis itu, sasaran kita adalah Pasar Cipanas yang bisa ditempuh dengan mudah dari Jakarta dan kawasan lain.

Setiba di pasar, berjalan sedikit ke terminal Cipanas. Di sini naiklah angkot warna kuning yang menuju Gunung Putri. Kalau udah malem, angkot diganti sama ojek atau musti nyarter.

Kira-kira setengah jam, sampailah kita di desa Gunung Putri. Ada beberapa warung untuk nambah perbekalan. Saran : beli 2-3 bungkus nasi/orang, untuk bekal makan siang/malam, sehingga kita ga perlu masak di jalan.

Perjalanan dimulai menyusuri jalan kecil yang membelah kampung. Cukup terjal dan sekitar 10 menit sampailah kita di pos penjagaan volunteer. Lapor di sini, kalo ada yg mau dititipin (pisau dsb) bisa juga dikasih ke petugas. Tentu saja dengan catatan kita akan turun lewat Putri juga.

Dari pos ini, susuri jalur tanah di sisi kebun kol dan 30 menit kemudian akan melintasi sebuah sungai kecil. Dari sini jalanan langsung menanjak. Setelah itu sampai di pos informasi lama yg kini udah bobrok.

Dari sini udah ga ada air lagi, jadi bersiap2lah. Sekitar 20 menit kemudian akan sampai di Pos 1 yg berbentuk bangunan kecil. Setelah itu melewati pos 2 (saung), pos 3 (tanah datar), pos 4, pos 5 dan akhirnya pos 6 yang ada di sisi timur alun2. Dari sini, perlu 30 menit untuk menyebrangi kawasan menuju sisi barat yang memiliki mata air kecil.

kalau mau melanjutkan ke puncak Gede, dari alun2 barat ambil jalur ke kanan dan nanti akan ketemu jalur berbatu2. Perlu waktu kira-kira 1 jam untuk sampai ke puncak Gede.

Gunung Dempo

Untuk mencapai desa terdekat, terlebih dahulu anda harus mencapai kota Pagar Alam, kurang lebih 7 jam perjalanan darat dari Palembang. Dari ibukota Sumsel ini tersedia banyak bus ke arah Pagar Alam, salah satunya dengan menggunakan bus Dharma Karya. Atau apabila anda dari Jakarta, sebelumnya dapat menumpang bus jurusan Bengkulu atau Padang, dan turun di Lahat.Kota Pagar Alam, memang sesuai dengan namanya, kota ini jelas dikelilingi barisan pegunungan Bukit Barisan dan yang tertinggi dari barisan tersebut adalah Gunung Dempo. Gunung ini sangat indah menjulang tegak menggapai langit nan biru apabila dilihat pada pagi hari. Oleh karena itu sangat tepat bila bermalam dulu di kota ini, disini banyak tersedia losmen atau motel, berkisar Rp20 ribu semalam. Budaya kota yang sudah berbaur dari berbagai suku baik pendatang maupun asli menciptakan kedamaian yang anda tidak peroleh di kota-kota besar.

Dari terminal Pagar Alam, terlebih dulu mencarter mobil/taksi untuk jurusan Pabrik Teh PTPN III yang jaraknya mencapai 15 KM dari terminal. Di Pabrik ini ada baiknya anda berkenalan dengan seseorang yang biasa dipanggil pak Anton, beliau termasuk yang dituakan oleh para pencinta alam seantero Sumsel-Lampung. Dengan meminta bantuannya, mobil carteran akan membawa anda ke desa terdekat dari kaki gunung Dempo, yang dapat memakan waktu lebih dari 20 menit, karena jalannya cukup terjal, berkelok dengan melewati hamparan kebun teh nan hijau.

Dusun VI, biasa disebut, dari sini anda harus melaporkan diri/bersilahturahmi dengan kepala keamanan desa, Wamin namanya. Di desa ini pula ada baiknya terlebih dahulu beristirahat sambil mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Hanya sayang, jangan berharap kebutuhan logistik anda dapat dipenuhi disini, warung yang ada sangat kecil, itupun cuma satu. Maklum rata-rata yang tinggal di sini adalah buruh pemetik teh, yang rata-rata berasal dari pulau Jawa. Kalau boleh anda tahu, ketinggian altitude disini mencapai 1200 mdpl. Jadi anda tinggal mendaki 1900 meter lagi untuk mencapai puncak Dempo.

Pendakian yang baik, sekitar jam 10 pagi, selain anda dapat menikmati indahnya susunan bukit barisan, perjalanan akan sedikit santai, tidak dikejar waktu. Satu jam pertama, hanya kebun teh dan kebun perdu yang dijumpai sebelum memasuki pintu hutan. Jalur sangat terjal dan licin bila hujan. Hutan yang dilewati sangat lebat dan padat sampai puncak Dempo. Tiga jam dari mulut hutan, puncak pertama dapat dicapai. Dempo memiliki dua puncak, yang satunya lagi dinamakan puncak Api.

Gunung Seminung

Apabila anda berwawasan luas, pasti pernah mendengar cerita sebuah danau yang terkenal yang terletak di perbatasan antara propinsi Sumsel dan Lampung. Namanya Danau Ranau. Di danau ini anda bisa menangkap ikan dengan cara menombaknya. Ikan di sini memang beraneka macam, ada ikan khas Sumatera, ikan Sema’ sampai dengan ikan ternakan yaitu ikan Nila. Malah jenis ikan Sema’ ini pernah terpancing dengan berat mencapai 25 kg!
Indahnya danau ini ditambah dengan alur danau yang mengelilingi sebuah gunung yang menjulang namanya gunung Seminung. Tingginya tidak sampai 2000 meter dpl. Tapi jangan kaget apabila anda menemukan bunga edelweis khas Sumatera di puncaknya. Datanglah sekitar bulan Juli-Agustus dan buktikan saja.

Cara mencapai puncak Seminung, sangat mudah. Dari Jakarta anda cari bus jurusan Simpang Sender lewat Liwa di terminal Kali Deres. Dan turun di Kota Batu atau 20 menit sebelum Simpang Sender. Dari Kota Batu, yang dulunya namanya Kuta (pagar) Batu, naik perahu motor dari pinggir Danau Ranau ke arah Sumber Air Panas di kaki Seminung. Di lokasi wisata ini anda dapat istirahat, sambil merasakan mandi air panas yang memang panass. Atau boleh juga sambil menunggu pagi hari, anda dapat memancing ikan dari atas perahu kecil milik penduduk setempat.

Dari Air Panas, anda mengambil arah kearah kanan menyusuri tepian danau. Setelah itu ambil jalan setapak langsung menuju puncak. Di perjalanan akan ditemui para petani kopi yang membawa hasil panen atau petani yang sekedar menjaga kebunnya. Di Gunung ini sebagian sudah ditanami kopi sejak zaman dulu, pohonnya yang berumur lebih dari dua puluh tahun bisa ditemui di sini. Harga sekapling kebun kopi, cuma 5 juta termasuk pondokan tempat untuk mengawasi.

Siamang, Cecah, Babi, Macan Kumbang, Rusa dan Beruang serta berbagai jenis burung dapat dijumpai disini, itupun bila anda beruntung, karena umumnya cuma suaranya yang terdengar. Bagi para penduduk asli yang sudah terbiasa waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak cuma 2 jam. Anda boleh tanya pada kuncen gunung ini namanya H. Sofjan, beliau walaupun sudah berumur lebih dari 70 tahun masih kuat mengurus kebunnya yang berada cukup jauh mendaki dari tepian danau Ranau. Jalur ke puncak kini sedikit tertutup karena sudah jarang didaki, jadi anda harus ekstra hati-hati setiap langkah yang anda buat.

Kondisi puncaknya sangat estetis, pohon-pohon besar yang kering menghitam bekas terbakar dua tahun sebelumnya, menciptakan suasana mencekam tapi sangat indah. Puncak Seminung ditandai dengan sebuah gubuk kecil beratapkan seng, dan anda bisa beristirahat di sana sebelum kembali turun yang memakan waktu 1,5 jam sampai pondok kebun kopi terdekat.

Gunung Pangrango

Gunung Pangrango dan G.Gede terletak di provinsi Jawa Barat. Puncak-puncaknya dapat terlihat dengan jelas dari Cibodas. G.Pangrango berbemtuk segitiga runcing sedangkan G.Gede berbentuk kubah.

Jalur yang dapat dilalui antara lain dari desa Gunung Putri dan Cibodas. Namun yang paling populer adalah lewat Cibodas. Dari bogor atau Cianjur naik bis ke arah Cipanas, turun di depan jalan masuk Cibodas yang terletak kurang lebih 2 Km arah Barat dari Cipanas. Dari sini naik angkot ke pintu Kebon Raya Cibodas. Di Wisma Cinta Alam yang terletak di sebelah kanan pintu gerbang, kita mendaftarkan diri untuk masalah perijinan pendakian.

G. Pangrango dan G.Gede berada dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), disinilah kita dapat menikmati keindahan alam asli. Peta-pandu Taman Nasional dapat diperoleh dari Wisma Cinta Alam. Kita masuk melalui pintu sebelah kanan Kebon Raya, lalu terus menuju Pos Jaga dan harus mencatat identitas diri disini. Di tempat ini kita juga dapat menginap.

Pendakian ke puncak dimulai dari belakang pos tersebut, dengan melalui hutan tropis yang sangat indah, kita menuju Pondok Kandang Badak (4 jam) yang sebelumnya melewati pertigaan ke arah Air Terjun. Di perjalanan, berturut-turut kita akan menemui 2-3 pondok, mata air dan air panas. Kita dapat bermalam di Pondok Kandang Badak, disini pun tersedia mata air yang cukup dingin.

Naik sedikit dari Pondok Kandang Badak, jalan akan bercabang yaitu ke kanan menuju puncak G. Pangrango dan ke arah kiri menuju puncak G.Gede. untuk ke puncak gunung pangrango, kita terus naik selama lebih kurang 3 jam menjelajahi (lagi-lagi) hutan alam hingga elevasi mencapai 1000 mdpl. Puncaknya berada dalam hutan berlumut, jadi kita tidak dapat memandang sekeliling karena terhalang pepohonan. Namun jika kita turun sedikit ke arah Barat, terdapat hamparan bunga Edelweis yang biasa disebut taman Mandalawangi. Di sebelah selatan terdapat sebuah pondok inap, dan disekitar taman tersebut terdapat lokasi memadai untuk mendirikan tenda.

Munuju puncak G.Gede kita harus mendaki selam 2 jam, di mana terbentang panorama alam nan indah dan dinding kaldera kawah aktif G.Gede dapat terlihat secara jelas. Puncak G.gede memiliki pemandangan alam amat indah, dari sini kita dapat melihat kota-kota terdekat dan tentu taman Edelweis Alun-alun Suryakencana di bawahnya. Dari puncak G.Gede kita turun ke Cipanas ke arah Utara atau menuju Sukabumi ke arah selatan.

Gunung Semeru

Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru termasuk dalam 4 (empat) wilayah Kabupaten, yaitu Kab. Proholinggo, Kab. Pasuruan, Kab. Malang dan Kab. Lumajang. Kawasan ini banyak dikenal oleh wisatawan asing maupun do¬mestik, terutama kawasan Bromo.

Untuk menuju G. Bromo dari arah Pasuruan: Dari Surabaya kita naik bus jurusan Probolinggo dan turun di Pasuruan. Selanjutnya naik Colt jurusan Tosari - Wonokitri. Di sini kita dapat bermalam di hotel atau losmen atau dapat juga langsung meneruskan perjalanan menuju G. Penanjakan, atau masuk ke lautan Pasir dan menuju puncak G. Bromo.

G. Penanjakan merupakan titik pandang terbaik ke arah kawasan G. Bromo, dimana Kawah Bromo nampak sebagai suatu panorama yang amat eksotis, dengan kepulan asap dan warna-warni punggungan bukit bekas lelehan lava belerang disekitarnva dan hamparan padang pasir mengelilinginva. Disini pemandangan matahari terbitpun nampak lebih indah dengan puncak G. Semeru sebagai latarnya.

Bila dari arah Probolinggo, kita naik Colt atau bis jurusan Sukapura terus Ngadisari. Dari Ngadisari naik kendaraan/berjalan kaki menuju Cemoro Lawang sejauh 3 Km. Di Cemoro Lawang kita dapat bermalam di hotel maupun losmen atau di rumah-rumah penduduk. Besok pagi-pagi sekali kita dapat melanjutkan perjalanan ke kawah G. Bromo yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki maupun naik kuda sewa, untuk menyaksikan panorama matahari terbit.

Masyarakat sekitar G. Bromo yaitu masyarakat Tengger mempunyai upacara tradisi tahunan yaitu upacara melempar sesaji pada tengah malam (tepat pkl. 24.00 WIB), yang disebut dengan upacara “Kasodo”. Upacana adat Tengger ini, biasanya sangat meriah dan sering dihadiri oleh pejabat-pejahat tinggi serta masyarakat Indonesia lainnya juga para turis asing yang jumlahnya mencapai puluhan ribu pengunjung.

Suhu di kawasan Bromo ini antara 5 - 14 C. Dan padang pasir Bromo kita dapat naik ke G. Batok, G. Kursi, maupun G. Pananjakan. Di kawasan G. Bromo ini banyak dijumpai panorama yang sangat menakjubkan.

Untuk menuju Gunung yang tertinggi di Pulau Jawa yaitu G. Semeru ( 3.676 m)~ paling mudah dicapai adalah dari arah Malang dengan naik Colt jurusan Tumpang, kemudian menuju desa Ranupane (2.200 m) dengan melewati desa Gubug Klakah (1.100 m) dan Ngadas (2.000 m) dengan Truk atau Jeep ongkosnya Rp. 6.000 sampai Rp. 10.000,- per onang (tahun 1999).

Desa Ranupane (2.100 m) adalah desa terakhir dan tempat pemeriksaan serta pos untuk melapor bagi para pendaki untuk naik, dan juga terdapat pondok pendaki untuk bermalam dan beristirahat. Ranu Pane mempunyai penduduk sekitar 60 orang yang merupakan perkampungan kecil, pekerjaan mereka pada umumnya bertani sayur-sayuran. Selain terdapat Ranu (danau) Pane, disebelahnya tendapat ranu lagi yang namanya Ranu Regulo.

Perjalanan ke Puncak G. Semeru dimulai dan desa Ranupane menuju Ranu Kumbolo pagi harinya pukul 7.00 melalui jalan setapak, jaraknya 13 Km., tidak terlalu terjal dengan memakan waktu sekitan 3-4 jam perjalanan. Di Ranu Kumbolo ada Pondok Pendaki untuk istinahat dan memasak. Daerah ini airnya inelimpah dan berada pada ketinggian 2.400 m dari permukaan laut. Ranu Kumbolo memiliki pemandangan yang sangat indah terlebih pada pagi hari bila kita dapat melihat matahani terbit dari celah-celah bukit.

Dari Ranu Kumbolo perjalanan dilanjutkan menuju Kalimati (2.700 m) melalui hutan cemara dimana kadang kita jumpai burung dan kijang. Penjalanan ini ditempuh 2 - 3 jam / 10 Km. Disini kita dapat mendirikan tenda, dan apabila kita membutuhkan air dapat menuju Sumbermani, kearah barat menelusuni pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh perjalanan 1 jam pulang pergi. Tetapi dianjurkan kehutuhan air telah dipersiapkan di Ranu Kumbolo.

Sebenarnya kita dapat juga berkemah di Ancopodo 1 jam perjalanan dari Kalimati ke arah puncak G. Semeiru. tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering tenjadi tanah longsor di kawasan tersebut.

Dari Kalimati biasanya para pendaki memulai pendakian menuju puncak pagi-pagi sekali, yaitu sekitar pukul 2 - 3 pagi dengan melalui hutan cemara 1 jam dan bukit pasir selama 2 - 3 jam untuk sampai di puncaknya, dengan keadaan jalan yang terjal menanjak.

Puncak Semeru yang biasa didaki adalah Puncak “Mahameru”. Dari puncak ini akan terlihat kawah yang disebut “Jonggring Saloko” dan yang uniknya setiap 10-15 menit sekali menyemburkan batuan vulkanis dengan didahului asap yang membumbung tinggi. Suhu di puncak Mahameru dingin sekali yaitu 0-4 C yang kadang-kadang berkabut tebal disertai badai angin. Pada saat badai dianjurkan untuk menunda pendakian ke puncak.

Panorama dari Puncak Mahameru tak akan pernah terlupakan indahnya, dimana terlihat puncak-puncak gunung di Jawa Timur, pesisir dan pantai, serta matahani terbit di ufuk timur.

Mendaki G. Semeru sebaiknva dimusim kemarau yaitu pada bulan-bulan Juni, Juli, Agustus dan September. Pendaki juga dianjurkan untuk tidak mendaki pada musim hujan di bulan Januani dan Februari, dimana sering terjadi badai dan tanah longsor.

Dari puncak turun kembali ke kemah (Kalimati) dibutuhkan waktu 1 jam, dan 3 jam untuk sampai di Ranu Kumbolo dan diperlukan 3 jam lagi untuk mencapai Ranu Pane. Bila sampai di Ranu Pane menjelang sore, kalau ada mobil kita bisa terus turun ke Gubug Klakah atau ke Tumpang, atau kita bisa bermalam di Ranu Pane dan besok paginya kita dapat turun kembali ke Tumpang.

Turun dari Ranupane ke arah Tumpang kita dapat juga menuju ke kawasan G. Bromo, melalui pertigaan Jempiang (2 Km sebelum desa Ngadas) ke arah kanan.

1.353 Meter Diatas Permukaan Laut

(juga Bukan Laporan Perjalanan, hehehe...)




Makassar hari itu telah padat oleh kendaraan yang hilir mudik lalu lalang ketika kami berlalu meninggalkannya. 13 juni 2009 pukul 09.30 WITA, rombongan berangkat dari titik Start Tamalanrea Makassar menuju ke Gunung Bulusaraung melalui jalur Balocci Desa tompobulu kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Rombongan kali ini terdiri atas delapan orang merupakan tim gabungan antara Republik CvDw 05 dan MAHESA UNHAS dengan misi mengibarkan dua bendera di puncak gunung Bulusaraung. Adapun kedelapan orang tersebut antara lain, Kanda Amar, Kanda Iccank (kami lebih akrab memanggilnya K’Lepe), Ase', Iccank, Fandy, Othe, Arfan (dari SkyNet), dan Saya Sendiri. Karena memilih jalur balocci maka kami memilih lewat jalur tonasa I. Perjalanan yang panjang dari Makassar menuju ke desa tompobulu relative aman namun selepas perumahan Tonasa I, jalur yang dilalui menjadi ekstrim dengan lintasan pendakian yang agak terjal dengan jarak kurang lebih 7 km dari gerbang Bulusaraung hingga desa Tompobulu.

Perjalanan yang kami tempuh dengan mengendarai 4 sepeda motor, dan tepat pukul 11.00 kami tiba di desa tompobulu langsung menuju ke rumah pak Djabir (kepala desa tompobulu). Di sana kami memarkir sepeda motor kami. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, kami akhirnya sepakat untuk beristirahat sejenak dan sekedar meluruskan punggung. Pukul 12.10, kami kedatangan tambahan personil. Ahmad dan Sapril dari MAHESA UNHAS tiba dari Makassar dengan mengendarai Honda MegaPro dengan Nomor Polisi DD 2030 NR. Dengan kedatangan Ahmad dan Sapril, Rombongan akhirnya genap berjumlah 10 orang.


Setelah sedikit beristirahat, pukul 12.30 akhirnya kami meninggalkan rumah pak Djabir menuju ke POS 1. Namun, sebelumnya tak lupa kami berdoa yang dipimpin oleh Ase' selaku Leader kemudian dilanjutkan dengan berfoto di depan balai desa Tompobulu. Pukul 12.38 kami tiba di POS 1, kemudian kami lanjutkan perjalanan melewati POS 2. Perjalanan antara POS 1 dan POS 2 ini lumayan berat dengan jalur tracking yang melelahkan. Pukul 13.05 kami tiba di POS 3, karena jalur tracking yang panjang kami memutuskan untuk beristirahat di pos ini. Pukul 13.35, kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju POS 4. Lagi-lagi jalur pendakian yang panjang dengan sudut yang terjal membuat kami sedikit terhambat untuk mempercepat langkah kami. Memang benar, Walaupun tidak terlalu tinggi,tetapi gunung ini sangat cocok untuk pendakian karena jalur nya yang sangat menantang. Dan sangat cocok untuk orang – orang yang senang dengan tantangan,disinilah tempat kita menunjukkan keberanian kita.
Pukul 13.51, rombongan akhirnya tiba di POS 4 dengan tersengal-sengal, kemudian beristirahat sejenak hingga Pukul 13.55 melanjutkan perjalanan. Pukul 14.01, kami tiba di POS 5 dan beristirahat lagi sembari menunggu Ahmad dan Sapril yang sedang mengambil air di sumber air yang berjarak sekitaran 100 meter dari POS 5. Selain POS 9, POS 5 merupakan salah satu lokasi sumber air di gunung Bulusaraung. Setelah agak Fit, Ahmad dan Sapril pun telah tiba, maka kami pun kembali melanjutkan perjalanan pada pukul 14.25.

Setelah POS 5, jalur pendakian pun sedikit relative lebih mudah. Pukul 14.30 kami pun tiba di POS 6, kemudian kami pun kembali melanjutkan perjalanan dan tiba di POS 7 pada pukul 14.36, dan kemudian kami kembali meneruskan perjalanan hingga tiba di POS 8 pada pukul 14.45. panorama yang indah di POS 8 membuat kami tergiur untuk kembali beristirahat menikmati pemandangan yang indah di pos ini.
Tak menyia-nyiakan kesempatan kami kembali mengambil pose dan berfoto-foto di pos ini. Karena takut kemalaman, Pukul 15.04, kami kembali meneruskan perjalanan menuju POS 9 dan tiba disana pada pukul 15.17.

Setibanya di POS 9, ternyata sudah ada 2 rombongan disana. Makanya kami memilih untuk mengambil tempat tepat ditengah-tengah POS 9. Akhirnya setelah mendirikan 4 tenda, mengambil air dan menyiapkan api unggun,kami kemudian menghabiskan malam dengan berkumpul dan bercerita di dekat api unggun. Dan setelah makan malam telah siap, kami pun bersantap malam itu di depan api unggun POS 9. Selesai bersantap kemudian dilanjutkan dengan menikmati KOPI HITAM yang kami beri nama “KOPI KAPAN BOBO” dicampur dengan KOPI CARRIBIAN dan 2 sachet susu kental manis. Minum kopi malam ini sangat nikmat, selain karena menghangatkan tubuh, juga tak lain karena alunan lagu ala unplugged yang mengalir tanpa henti dari rombongan sebelah. Berbagai macam lagu telah mengisi malam itu di POS 9.”bagus memang tawwa suarana”…

Pukul 21.09, Saya Sendiri memutuskan untuk masuk tenda dan beristirahat, namun akhirnya saya terlelap dan terbangun mendadak ditengah malam. Pukul 12.01, seekor lipan berukuran jumbo, entah dari mana datangnya telah berhasil membuat kami terbangun dan keluar dari tenda. Cukup lama juga akhirnya lipan itu berhasil di keluarkan. Dan hal itu membuat mataku berat untuk tertutup lagi. Ternyata Ase' juga tak dapat lagi tertidur, akhirnya kami mencari-cari kesibukan di tengah malam. Mulai dari memperbaiki pelita dan mengisinya dengan minyak tanah, sekedar duduk bengong sambil menghisap rokok Gudang Garam Surya, hingga akhirnya kami memutuskan untuk memanaskan air dan menyeduh 2 gelas Energen Rasa Kacang Hijau. Cukup lama juga kami bercerita hingga akhirnya mata pun kembali menuntut untuk ditutup kembali. Setelah energen telah habis dari gelasnya, Pukul 02.43, kami pun kembali masuk tenda dan terlelap.

Minggu, 14 Juni 2009 pukul 08.46, setelah semuanya telah terbangun, setelah segala persiapan telah mantap, kami pun kembali melanjutkan perjalanan dari POS 9 menuju ke puncak gunung Bulusaraung. Jalur dari POS 9 menuju ke puncak Bulusaraung selain membutuhkan tenaga ekstra, stamina yang mantap juga membutuhkan nyali yang bagus. Jalur yang curam dan berbatu dengan sudut kemiringan yang nyaris vertical membuat kami agak kesulitan untuk mendakinya. Beruntunglah, cuaca yang sangat cerah kali ini tidak mengaburkan pandangan sehingga kami masih bisa untuk tetap melangkah ke depan. Dan tepat pukul 09.06 akhirnya kami tiba di Puncak gunung Bulusaraung. Di puncak ini kami mendapati Tugu Tranggulasi Bulusaraung dengan keramik berwarna biru pada permukaannya. Selain itu terdapat pula sebuah menara yang diikat dengan labram pada sisi puncak
Tranggulasi Bulusaraung.
Tanpa menyia-nyiakan waktu kami kemudian mengambil gambar di sekitaran puncak Bulusaraung, dan tentu saja melaksanakan misi perjalanan ini yaitu mengibarkan 2 bendera (Bendera Republik CvDw 05 dan Bendera MAHESA UNHAS) di puncak Bulusaraung ini.


Pukul 10.47, akhirnya dengan mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada TUHAN sang Pemilik Alam dan makhlukNya, kami pun meninggalkan puncak ini dan segera kembali menuju ke POS 9. Ternyata perjalanan kembali ke POS 9 juga memiliki tingkat kesulitan, jalanan yang curam dengan kondisi bebatuan yang licin diakibatkan oleh lumut sehingga kami merasa perlu untuk berhati-hati dalam memilih pijakan kaki. Dan akhirnya kami berhasil tiba dengan selamat di POS 9 pada pukul 11.29.

Ternyata kondisi badan yang dalam keadaan lelah sehingga kami pun kemudian berembuk dan memutuskan untuk tidak segera turun, beristirahat sambil mempersiapkan makan siang merupakan solusi yang tepat dalam kondisi seperti itu. Untuk mengefisienkan waktu Kami pun membagi tim, ada yang memasak, ada yang mengambil air, serta ada yang membersihkan area. Cukup lama juga waktu yang kami habiskan hingga akhirnya segalanya telah beres. Setelah kami menyantap makan siang, kami pun segera berbenah dan mempacking perlengkapan.


Tepat pukul 16.25, kami pun meninggalkan POS 9. Kali ini, kami menepuh perjalanan dengan ritme yang agak cepat dan tanpa beristirahat.POS 8 kami lalui pada pukul 16.28. kemudian pada pukul 16.34,POS 7 pun kami lalui. POS 6 kami lalui pada pukul 16.43. empat menit kemudian, tepatnya pukul 16.47, dengan cara berlari dari POS 6 akhirnya kami tiba di POS 5. Dan pukul 16.51, POS 4 pun kami lewati. Kemudian tiba di POS 3 pada pukul 16.59, beristirahat hingga pukul 17.08. dan pada pukul 17.13 kami akhirnya tiba di POS 2, kemudian beristirahat lagi dan kemudian melanjutkan perjalanan pada pukul 17.19 dan akhirnya tiba di POS 1 pada pukul 17.24.

Dari POS 1 kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Pak Djabir selaku Kepala Desa Tompobulu.sekitaran 30 menit kami beristirahat kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke Makassar. Kali ini perjalanan kami tempuh menggunakan sepeda motor. Namun, pada Gerbang Bulusaraung akhirnya kami singgah untuk sekedar minum kopi dan bercerita.

Dan pada pukul, 19.20 akhirnya kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke Makassar dari Gerbang Bulusaraung. Dan dengan mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga akhirnya kami tiba di Makassar pada pukul 20.35. perjalanan yang sangat menantang dan disinilah tempatkan Walaupun tidak terlalu tinggi,tetapi gunung ini sangat cocok untuk pendakian karena jalur nya yang sangat menantang. Dan sangat cocok untuk orang – orang yang senang dengan tantangan,disinilah tempat kita menunjukkan keberanian kita, Di Bulusaraung 1.353 Mdpl.

Hari Ini Bumi....



Sebuah Refleksi Tentang Bumi....

Hari ini,bumi menjerit lagi
Tangisan hujan berhari-hari
Tak sanggup redakan kemarahan ini
Hutan hijau memerah lagi
Luluh lantak,terpekur mati

Hari ini bumi meratap lagi
Darah mengalir di ujung-ujung jari
Mereka luapkan emosi tanpa guna hati
Menyesali diri…
Kami mati sendiri-sendiri

Hari ini bumi meronta lagi
Tanah bergetar,langit merah sembunyikan matahari
Dibawah reruntuhan ini kami ratapi
Berharap ini bukan hukuman dari Gusti

Tapi kini bumi tersenyum kembali
Karna masih ada cinta dalam tiap insan berhati
Segelintir kasih menjalin damai yang terpatri
Meyakinkan sahabat,teman seperjuangan,
Mentari kan bersinar kembali






Penulis hanya manusia biasa yang bernama A.Ichsan Baharuddin atau kami biasanya menyapanya dgn sebutan Kanda Iccank.
Penulis sekarang berdomisili di BTN Bung permai A6 No.5 dan sekarang lagi melanjutkan studinya di Pasca Sarjana Unhas Makassar Jur APB 2008 FISIP UH
Penulis adalah seorang Penggiat alam dan seorang pemerhati lingkungan yang masih aktif meluangkan waktunya untuk bercengkrama dengan alam..
Penulis Cuman berharap kawan2 yang sering bercumbu dengan alam bisa sama2 menjaga kelestarian Alam, jgn merusak,sayangi seperti kamu merawat dirimu sendiri.
ok, Trima kasih atas kadonya, kanda...God Must Be Loves You...

Ke Ramma' Lagi, Bukan Laporan Perjalanan....hehehe...


Ole-ole Dari Ramma’…Sekali lagi, Bukan Laporan Perjalanan hehehe...

Alul yang cakep, 003/MAHESA/PENDIRI/2007

Kali ini, 28 november 2008, dini hari..
Kembali kulangkahkan kakiku di tempat ini, kujejakkan sepatuku mereknya Trakindo nyewa di Dimitri dengan slogan Outdoor Solution dengan memakai SIM A-nya temanku namanya Ahmad yang baik hati sebagai jaminannya.

Kembali kulangkahkan kakiku di tempat ini, kampong beru namanya..jalanannya rusak parah dengan pendakian dan penurunan yang ampun (bikin Sakit Kaki dan Sakit Hati). Itu baru kampong beru, Bro…,masih ada sekitaran sekilo menuju Desa Lembanna, desa yang penuh dengan keramahan warganya, desa yang sebagian besar warganya hidup dari berkebun dan beternak…ada banyak sayuran bertebaran di mana-mana..

Terpaksa jalan kaki membawa carrier dengan beban maksimal 120 kg dengan medan yg berat cukup menyita banyak tenaga serta konsentrasi penuh biar tetap tenang tanpa ada umpatan yang keluar dari bibirku yang sensual ini. Tapi dasar anjing, ngga bisa lihat cowok cakep lewat, trus saja di gonggongi dengan kekuatan penuh…anjing..anjing..andaikan kamu bisa ngomong, km pasti akan berkata alul cakep lewat..alul cakep lewat…mau bagaimana lagi? Cakep yach cakep, anjing yach anjing…
Masih menuju lembanna, dengan susah payah kunyalakan kembali alat pemutar MP3ku mereknya hi-Tech seharga Rp 210.000,- di computer city Makassar,yang jaga toko manis, namanya Vita Kulihat dari ID Cardnya…thanks naa, nda penting banget…

Masih menuju Lembanna, Lagunya Saint Loco memang paling pas menemani perjalanan yang panjang ini…hip Rock, Falling, Terapi Energi, Metropolis, Maria, dan Kedamaian sebagai penutupnya…keren!!! ngga sadar ternyata ada ahmad dan yude yg menemani perjalanan ini (hehehe..menemani..) ada juga tomo, fatah, dan hisyam yang turut serta dalam perjalanan ini, mereka pun juga cukup merasa tersiksa dengan medan ini, apalagi “mengendarai motor supaya baik jalannya. Supaya motor baik jalannya, yach terpaksa alul yg cakep beserta ahmad dan yude yang biasa-biasa saja turun dari motor dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan peralatan manual (kaki) yang dibalut dengan apik menggunakan sepatu mereknya Trakindo nyewa di Dimitri dengan slogan Outdoor Solution dengan memakai SIM A-nya Ahmad yang baik hati tapi sayangnya biasa-biasa saja wajahnya sebagai jaminannya.



Pendaki..pendaki..memang susah jadi pendaki. Lebih gampang jadi teroris daripada jadi pendaki. Lebih gampang jadi penjual sayur daripada jadi pendaki. Lebih gampang jadi penjual obat daripada jadi pendaki. Lebih gampang jadi ALMARHUM daripada jadi pendaki. “DIRALAT” Lebih gampang jadi ALMARHUM kalo mau jadi pendaki.

02.32 Waktu Indonesia bagian Lembanna, akhirnya kami pun tiba di Lembanna.kami pun memilih untuk mengetok pintu dini hari pada sebuah rumah paling sudut berwarna hijau yang konon kabarnya menjadi base camp bagi teman-teman dari Kalpataru SMU Neg 1 Makassar(Salam Lestari) dan sepenuhnya menjadi milik dan kepunyaan Tata’ Rappe dan keluarganya yang ramah, bersahabat dan baik hati.

06.56 Waktu Indonesia bagian Lembanna, alul yang cakep terbangun dari mimpinya karena mendengar suara dari teman-teman yang berisiknya minta ampun..yach terpaksa bangun.(kode etik orang menumpang : Harus rajin bangun pagi, harus bantu-bantu empunya rumah, dll). Setelah cuci muka dan menyikat gigi dengan bersih dan teliti, alul yang cakep pun dengan lagak bak ksatria menuju ke pekarangan sembari menatap ke arah pegunungan Bawakaraeng-Lompobattang... eh, ternyata teman-teman sudah menyiapkan sarapan. Dan tanpa menunggu aba-aba, tanpa rasa bersalah alul yang cakep mendekati sarapan panas di pagi yang cerah namun dingin. Ok, MENU SARAPAN KITA PAGI INI : Nasi Goreng bumbu Indofood dengan taburan bakso dan telur dadar serta mie goreng lagi-lagi Indofood.

Setelah menyiapkan perlengkapan dan mem-Packing Ulang tas carrier dengan tujuan membagi rata beban yang akan dibawa, 11.00 Waktu Indonesia bagian Lembanna, kami pun memulai perjalanan dengan tak lupa untuk berdoa kepada Tuhan Yg Maha Esa sebelumnya memohon keridhoannya untuk melindungi kami sepanjang perjalanan.

Perjalanan menuju Ramma’, sama seperti kebanyakan tempat di Sulawesi selatan, hanya pohon-pohon tinggi, semak-semak, lembab, dan sungai-sungai kecil yang membelahnya. Ramma’ merupakan sebuah lembah yang indah, tapi kalo menurut alul yang cakep “Lembah Putus Cinta” adalah nama yang pantas…(Siapa Suruh Pergi Mendaki? km lbh perhatikan gunung daripada saya? Lebih baik kita PUTUS!!!, BrAkKKk!!!).

Perjalanan menuju Ramma’, tim melalui percabangan (Ketika Kaki harus Memilih). KANAN Berarti Ramma', KIRI berarti Puncak Bawakaraeng. Hahaha, karena tim menuju ke Ramma’ makanya kami memilih jalur Kanan untuk dijalani setapak demi setapak..ada beberapa sungai besar yang dilalui (dan menurut kesepakatan umum, setiap sungai menuju ramma adalah pos persinggahan bagi pendaki). PERHATIAN..PERHATIAN..SELAMAT DATANG DI POS SEKIAN, KEPADA YANG TERHORMAT PARA PENGUNJUNG DIPERSILAHKAN UNTUK MENGISI BOTOLNYA DENGAN AIR, MENDIRIKAN TENDA APABILA HARI TELAH BERGANTI MALAM, DLL…TETAPI MOHON MAAF KEPADA PARA PENGUNJUNG UNTUK TIDAK MEMBUANG SAMPAH SEMBARANGAN APALAGI SAMPAI MEMBUANGNYA KE DALAM ALIRAN SUNGAI.

Perjalanan menuju Ramma’, ada beberapa pendakian yang mampu membuat jantung berdegup kencang..tetapi yang paling mampu membuat adrenalin terpacu adalah TALUNG. Tetapi berhubung kami dari atas, maka kami ber-6 bersepakat untuk menamainya dengan nama PENURUNAN. Dari puncak talung, kami bisa melihat Bawakaraeng, Danau, sungai sallenk yg di kemudian hari berubah pelafalannya menjadi sungai SLANK ;piss!!!, lembah ramma’ dan tentu saja rumahnya TATA’ MANDONG (seorang lelaki tua yang hidup seorang diri yang menggantungkan hidupnya dari beternak sapi dan membiakkan ikan di empang “MADE BY TATA’ MADONG”; betul-betul menggantungkan hidupnya dengan memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya.dan konon kabarnya digaji oleh departemen kehutanan Republik Indonesia sebesar Rp.150.000,- untuk menjaga daerah tersebut). lelaki tua itu bernama Mandong, dan menurut KAMUS BESAR BAHASA MAKASSAR (Kalo Ada?) panggilan Tata' merupakan panggilan akrab seorang anak kepada orang yang lebih tua dan dihormati (Merujuk Kepada Bapak-bapak. maka dengan asumsi seperti itu, melekatlah sebutan yang keren untuk lelaki tua tersebut yakni "TATA MANDONG" Gitu Loch...

Puncak Talung, atau juga biasa disebut sebagai ‘Paccelengang’, yang kurang lebih artinya adalah tempat mengintip. Ngintip apa coba? Yaa, ngintip ramma’ tentu saja…tiba di talung berarti tidak lama lagi tim akan tiba di ramma’..kurang lebih 30 menit waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai ke Ramma’.

Dan sangat terasa, kami pun tiba di ramma’ dengan selamat, walaupun nafas tersengal-sengal..dan tata’ mandong pun menyambut kami dengan ramah pula…sungguh ramah orang-orang di gunung? Kenapa di kota kita sulit menemukan hal seperti itu?
Setidaknya ingin bersantai sejenak; Tomo, Fatah, Hisyam, Ahmad, Yude, dan saya sendiri ALuL yang cakep..cepat tersadar bahwa kami adalah tim pendahulu dari rombongan diklatsar angkatan kedua MAHESA yang ditugaskan berangkat lebih dahulu ke Ramma’ untuk menyiapkan lokasi dan menjemput rombongan diklatsar angkatan 2 MAHESA di Talung (artinya Naik lagi doonk)…wah, ngga mudah nich, artinya kami harus segera memulai untuk bekerja…bekerja dan berusaha demi suksesnya DIKLATSAR angkatan kedua MAHESA, demi jayanya MAHESA (BUKAN SPEK-SPEK; Amin)…



Simak Juga Di pojokalul.blogspot.com

Tulisan Terbaru

...... ........